Mencoba Mengambil Kesimpulan

Rampok yang Legal? | Apr 09th 2007

Hari ini aku mendapatkan surat kedua dari temanku yang sedang menuntut ilmu jauh di negri orang, dalam surat pertama ia menceritakan tentang kebobrokan manusia di negri yang banyak orang katakan indah, berbudaya dan ramah, dan untuk surat yang kedua ini entah apa yang akan ia ceritakan, yang pati aku sudah tidak sabar lagi untuk membuka dan segera membacanya. 

”Negri Indah, 4 April 2007 

Dear sahabat ku, Apa kabarmu? Bagaimana kesibukan dan pekerjaanmu? Jika tidak salah ingat temapat kerjamu bergerak dalam bidang pertambangan bukan? Bagaimana dengan perusahaanmu? Apakah perusahaan tambang tempat kamu bekerja tetap memperhatikan lingkungan dan alam sekitar? Hahahaaa…. kamu pasti bingung dan heran kenapa aku tiba-tiba bertanya tentang itu, dan kamu pasti sudah tidak sabar untuk memprotes dan memberikan beribu argumen yang membela perusahaan dimana kamu bekerja yang selalu memperhatikan dan menjaga lingkungan alam, sabar sahabatku, aku tahu bahwa perusahaan dimana kamu bekerja sangat-sangat memperhatikan alam, sangat menjaga dan tidaklah tamak berpikir hanya untuk mengambil keuntungan pribadi semata, namun kamu tahu, bahwa di negri ini, di negri tempat aku berada saat ini sangatlah jauh berbeda, kamu kali ini pasti menjadi heran dan bingung bukan? Baiklah akan aku ceritakan, ini terjadi di tahu lalu, ada sebuah perusahaan tambang yang sangat besar, dimana salah satu pemiliknya adalah seorang yang dibesarkan oleh uang dan kasih sayang jendral rakus penguasa negri ini di orde yang lalu, kita sebut saja pengusaha itu adalah Badrun, nah mungkin kamu kini tahu siapa yang sedang aku ceritakan? Yah betul Badrun & Brothers (BB), memang sangatlah terkebal corporasi itu, bahkan saat ini ia juga menjabat mentri sosial, luar biasakan? Bagaimana bisa itu terjadi? Aku rasa kita tidak perlu membahas itu, kita fokus pada hal yang sejak awal ingin aku ceritakan saja. Singkat cerita salah satu anak usaha dari BB mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola gas bumi di suatu loksai yang tidak terlalu jauh dari penduduk, bahkan tidak jauh dari salah satu kota besar yang terkenal di negri ini. Namun dalam upaya menggali konon tiba-tiba saja tanpa diduga terkena pada lapisan gas dan lumpur yang mengakibatkan keluarnya lumpur panas terus menerus dari lubang galian itu, kamu tahu apa yang terjadi dengan lumpur itu? Lumpur itu membanjiri seluruh wilayah di sekitar tempat itu, entah sudah tak terhitung beribu rumah terbanjiri oleh lumpurnya, segala upaya konon katanya telah dilakukan untuk menghentikannya, entah karena tenaga ahli-tenaga ahli disini yang bodoh atau bagaiamana sehingga semburan itu tidak bisa lagi dicegah atau dihentikan, dan yang teranehnya Pemerintah negri ini tidak sama sekali mengambil tindakan hukum kepada perusahaan itu, atau setidaknya adalah sanksi moral yang diberikan pada si Badrun sang mentri sosial yang mengakibatkan keterpurukan sosial masyarakat sekitar tambang itu, ironi bukan? Hanya di negri ini saja yang seorang mentri sosialnya demikian.  Hahahahaa… temanku kamu jangan tertawa terlebih dahulu, karena ini bukanlah suatu cerita humor ataupun lelucon, ini menyangkut nyawa hidup sekian ribu manusia yang hidup disekitar tempat itu, aku tidak tahu lagi berapa kerugian moral, materi yang diderita? Dan aku juga tidak tahu apakah ini akan menjadi petaka yang tidak ada akhirnya? Yang jelas sampai dengan saat ini tetap berlangsung. Kamu tahu rumah-rumah yang sudah tidak mungkin lagi bisa digunakan karena penuh terisi lumpur, tangisan si pemilik di penampungan-penampungan, hai bung ini bukan masa perang, mereka bukan sedang ditawan oleh tentara NAZI, mereka manusia merdeka, kenapa mereka harus kelaparan karena hanya memakan nasi bungkus dengan lauk yang jauh lebih sederhana dibanding lauk di Warteg, mereka tidak sedang hidup dalam jajahan sehingga anak-anak mereka tidak bisa sekolah, dan satu yang terpenting mereka tidak pernah sedikitpun memakan dan menikmati uang dari B&B namun kenapa mereka harus menanggung dosa perbuatan Badrun, mengapa mereka harus membayar kesalahan hidup hedonis keluarga Badrun, kenapa mereka yang membayarnya dengan harta mereka yang Cuma segitu, sedangkan mereka tidak pernah sekalipun naik mobil mewah si Badrun, bahkan mereka tidak pernah sekalipun mencium aroma wangi parfum mahal wanita-wanita yang hidup dalam lingakaran kemewahan anak-anak Badrun. Ironi, sekali lagi ironi. Mungkin secara teknis dunia pertambangan aku tidak bisa berkomentar banyak, karena aku tahu kamu pasti lebih tahu dan ahli dalam hal itu, namun aku ingin sedikit melontarkan protes, teriakan ketidak terimaan aku dengan kondisi ini kepadamu, setidaknya biar aku sesikit puas, puas karena aku bisa mengeluarkan semua kepenatan yang menumpuk ruah dalam otak dan hati ku terhadap pemerintah negri ini, kamu tahu? Selama sekian puluh tahun aku hidup, sebanyak buku sejarah bangsa-bangsa yang aku baca, sebanyak apapun berita-berita yang aku dengar, baru kali ini aku mendapatkan kenyataan pahit, kenyataan sebuah pemerintah membiarkan segelintir orang menyengsarakan rakyatnya, membiarkan sekelompok perompak dengan bendera B&B merampok kekayaan, masa depan, kehidupan rakyat banyak, bahkan seakan-akan menjadikan ini sebagai musibah alam yang tidak bisa lagi diupayakan sehingga harus dibiarkan, sempat muncul spekulasi berpikir jangan-jangan pemerintah itu merupakan bagian atau pemerintah itu turut mengecapnya? Namun kali ini tanpa kau minta aku telah membuang jauh-jauh prasangka buruk ku terhadap pemerintah negri ini. Jika sebuah pemerintahan tidak lagi dapat melindungi rakyatnya dari kemunafikan dan penindasan, dan jika sebuah pemerintah tidak lagi mampu menahan segala upaya kejahatan terhadap rakyatnya, dan jika sebuah pemerintah tidak dapat membahagiakan serta membiarkan rakyatnya hidup sejahtera, maka apa lagi yang bisa diharapkan dari pemerintah seperti itu?   Temanku diakhir surat ini aku mau mengatakan pada mu betapa ngerinya hidup di negri ini, kamu lihat sendiri bahwa sebuah kejahatan besar, perampokan terang-terangan dan penindasan hak asasi manusia terhadap beribu rakyat bangsa ini telah dibiarkan oleh pemerintahnya, telah dianggap sebagai hal lumrah tanpa ada tindakan tegas, tanpa ada sanksi, bahkan tidak juga untuk sanksi moral, kamu bayangkan jika perampokan, kejahatan, pemerkosaan, pelecehan, penindasan, diskriminasi, pembunuhan dan lain-lain hanya terjadi pada ku, pada 1 orang, pada 1 orang yang bukan siapa-siapa, bukan juga mewakili siapa-siapa, apa yang bisa kita perbuat? Pada siapa kita memohon keadilan? Pada siapa kita akan meminta pertolongan/perlindungan? apakah hal ini tidak mengerikan? Setujukan kamu dengan apa yang aku katakan?  Temanku, lega rasanya aku dapat bercerita hal ini padamu, yang ada saat ini aku hanya bertekat sesegera mungkin menyelesaikan tugas ku dinegri ini, dan sesegera mungkin kembali pada Indonesia-ku, Bangsa besar, tanah air ku, negara yang selalu melindungi mencintai dan dicintai oleh ku. Peluk cium dari temanmu” 

Setelah membaca surat ini aku kembali tertegun dan berpikir keras, kenapa dia selalu menulis surat dan menceritakan kejadian-kejadian dan hal-hal mengerikan yang juga terjadi di sini? Dan kenapa aku selalu merasa sedang disindir olehnya jika membaca surat itu, seakan-akan temanku itu sedang berada dekat, berada di Indonesia ini? Kebetulankah? Aku terus berpikir hingga otakku lelah, dan tidak hanya itu badankupun sudah mulai mengikuti kelelahannya hingga aku tertidur, bermimpi tentang Indonesia, tentang negara yang makmur, yang sejahtera, yang selalu menyenangkan rakyatnya, membela rakyatnya, mengutamakan kesejahteraan rakyatnya, tidak ada lagi kekerasan, tidak ada diskriminasi, bahkan pemerintah yang biasanya diletakkan ditingkat paling agung, kali ini berada dalam tingkat yang terendah yang siap membantu dan melaksanakan setiap amanah rakyatnya, ideal….  semoga bukan ideal yang sekedar angan dan cita-cita…..


Posted in Kritik sosial

& Komentar »

  1. laluuu. . .apa isi surat balasan erry kalau begitu? si sobat cerita ttg hal2 yg dirasa erry nyaris sama dgn yg terjadi di indo. . .masa 2 surat isinya 1 musibah nan sama. . .hehe. Yahh inilah hidup. . .mau pesimis atau optimis? ^^

    Komentar oleh Yessica Elizabeth H. K., C.SH — April 17, 2007 @ 3:28 pm

  2. hahahaaa… memang bukan untuk dibalas, tapi renungkan, jika memang setuju dengan apa yang ditulis maka mulailah dari sekarang kita hentikan musibah dan kondisi ini sekarang juga.
    ok?

    Komentar oleh errycloeksono — April 18, 2007 @ 2:58 am

  3. ok ok aja gue mah. . .hehehehe. Tp apakah ‘OK’ itu sejalan dgn ‘OK’ menurut org2 lain? yahh itu jd no 2 aj dhe ya haha^^ rumuskanlah dengan begini saja : enakkan punya bapak suharto/sby erry. . .wkwkwk ^^

    Komentar oleh Yessica Elizabeth — April 18, 2007 @ 3:14 am

  4. jawabannya tidak akan didapat dengan memperoleh jawaban suharto / sby, tapi bagaimana menyadarinya, kenapa kalo berbicara tentang kehidupan masyarakat kita harus mengacu pada pemimpinnya? justru menurut aku problem ada didiri kita sendiri, nyawamu ada ditangan mu sendiri, berhenti menyalahkan org lain, sekalipun org lain itu tidak becus…

    Komentar oleh errycloeksono — April 18, 2007 @ 3:23 am

  5. hm…….., negeri kita negeri ajaib say… segala sesuatu yg bener jadi gak bener, yg salah jd bener… dengan pejabat2 yang antik, dan wakil rakyat yang tidak mewakili rakyat mana pun..
    wong saya tdk merasa terwakili…
    hehehehe…
    kesimpulannya, utk kondisi semacam ini erry, lbh baik revolusi atau reformasi?
    hehehe…., takut komentar saya, ntar dicekal kayak news.com…

    Komentar oleh julia — April 25, 2007 @ 8:33 am


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

    RUPA-RUPA

    ERRY C. LOEKSONO

    loeksono day

    April 2007
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

    Blog Stats

    • 6,872 hits