Mencoba Mengambil Kesimpulan

Iklan Lowongan Masyarakat

Saya ada membaca iklan lowongan pekerjaan, sangat menarik mungkin anda berminat? silakan membaca/mungkin merasa berkepentingan untuk menambahkan syarat2nya? mudah kirimkan komen anda…. good luck…. heheheheee……

 IKLAN LOWONGAN KERJA 

Kami adalah sebuah bangsa besar yang sedang berkembang mencari orang-orang yang tidak harus berpendidikan tinggi namun tahu cara hidup yang sehat jiwa, untuk ditempatkan dalam posisi :

1. Pemerintahan (dari posisi Presiden s/d Ketua RT) Syarat :

     - Peka dan berorientasi memperhatikan kepentingan bangsa dan masyarakat

     - Menjunjung tinggi hukum dibandingkan kepentingan politik (harus)

     -  Reformis dan Anti Korupsi

     -  Mencintai rakatnya

     -  Menyukai uang kecuali uang rakyatnya

     -  Memiliki malu

     -  Dan bersedia mati demi bangsanya 

2. Politikus (dari parlement s/d jalanan)

Syarat :

     - Peka dan sangat memperhatikan kepentingan bangsa dan masyarakat

     - Menjunjung tinggi hukum dibandingkan kepentingan politik (harus)

     - Reformis dan Anti Korupsi

     - Mencintai rakyatnya

     - Menyukai uang kecuali uang rakyatnya

         -  Memiliki malu

      –  Memiliki etika dalam berpolitik sehingga tidak menyelesaikan masalah bangsa hanya 

      dengan kepentingan politik kelompoknya

     - Dan bersedia mati demi bangsanya 

3. Warga Negara yang baik

Syarat :

     - Bermoral dan berkelakuan baik

     - Mencintai bangsanya

     - Bersedia kontra dengan pejabat yang korup

     - Menyukai uang kecuali uang haram

     - Memiliki malu

     - Memiliki etika hidup dan bertanggung jawab atas kelangsungan penerusnya

     - Dan bersedia mati demi bangsanya 

Jika anda tidak tahu malu dan merasa cocok dengan salah satu posisi beserta dengan syaratnya maka kami tunggu
surat lamaran dan cv  lengkap selambatnya sebelum pemilu kami selanjutnya di alamat : 

Sekretariat Negara Republik Babak Belur Melulu

Sek_Neg@RBBM.net 


Posted in Kritik sosial

Bahwa moral bangsa kita mencemaskan??

 Malam itu seperti biasa saya pulang dari kantor menuju rumah dengan menggunakan busway, dengan tenaga dan semangat yang hamper-hampir tidak ada saya memaksakan diri untuk terus berjalan menuju halte busway dekat kantor, setelah kurang lebih 20 menit menunggu saya akhirnya mendapatkan ruang untuk bisa naik kedalam bus tersebut, sempit memang dengan sedikit menabrak kanan dan kiri akhirnya sampailah saya dalam posisi terjepit diantara penumpang bus, disebelah kanan saya ada seorang laki-laki yah mungkin sekitar usia 37 tahun, dan samping kanan saya adalah wanita seusia dengan menggunakan jilbab, posisi kami berdiri berjejer bergantungan persis seperti mahluk yang hidup menggelanyut dari pohon ke pohon yang lain, di depan kami berjejer yang kebetulan para wanita yang mendapatkan tempat duduk. 

setelah sekian lama bus berjalan sampai pada akhirnya berhenti di sebuah pemberhentian, dan satu orang wanita yang semula duduk dihadapan kami berdiri dengan maksud turun dihalte tersebut, namun dengan sangat tiba-tiba belum sempat wanita itu berdiri sempurn, pria yang semula berdiri disisi kanan saya sudah menaruhkan hampir seperempat tubuhnya di atas kursi sang wanita, saat itupula kontan saya menepuk pundak sang pria (entah setan dari mana yang bisa membuat saya berani untuk melakukan itu, karena biasanya saya tidak terlalu mau mencampuri urusan orang lain) dan mengatakan “mas berikan saja kursi itu untuk embak yang disisi kiri saya”, karena saya perhatikan jika bergelantungan seperti saya tidaklah akan nyaman bagi kebanyakan wanita, namun sekali lagi seperti petir menyengat dan mematikan saya secara berdiri, pria itu tidak perduli dan tetap duduk serta memberikan pandangan, mengancam dan marah pada diri saya. 

Pada saat itu pula sontak saya hanya bisa diam, dan sesaat otak saya tidak bisa berpikir apa-apa, yang ada hanya adrenalin saya yang terpacu, nafsu untuk marah, nafsu untuk berteriak, nafsu untuk menangis, sesaat kemudian saya teringat kembali kejadian 3 bulan lalu, dimana pada saat itu saya dengan sombongnya memberikan alasan pada kekasih saya tentang mengapa saya rela tidak lagi menggunakan mobil pribadi saya untuk pergi kekantor, teringat kembali bahwa saya melontarkan perkataan bahwa saya dengan mencoba menggunakan kendaraan umum saya mau membuktikan bahwa orang-orang yang tidak mampu memiliki mobil sendiri adalah orang-orang yang lebih peka dan lebih bermoral dibandingkan orang-orang kaya, saya lebih bisa menikmati hidup sehat jiwa bila berkumpul dengan mereka, saya akan muak dengan aturan-aturan dan kamuflase moral dari orang-orang yang lebih beruntung hidupnya. 

Terpukul rasanya bahwa ternyata dugaan saya salah, dan saya coba kemabli mengingat-ngingat kejadian selama 3 bulan saya menggunakan busway, mencari-cari apakah lebih banyak kejadian simpatik dibandingkan kejadian memuakan seperti yang baru saja terjadi didepan hidung saya. Yah saya menarik nafas berat, ternyata lebih banyak kejadian yang memuakkan yang terjadi. Lebih banyak wanita / manusia lanjut usia berdiri karena ego peria-peria tidak bermoral itu, belum lagi banyak wanita-wanita yang secara langsung maupun tidak langsung yang mengalami asusila di dalam kendaraan tersebut, lemas rasanya dengkul ini…… ternyata selama ini kesombongan saya pada kekasih saya terbukti 1-0 kemenangan ditangan kekasih saya… 

Setibanya dirumah saya buru-buru mandi dan menuju ke rumah kekasih saya, disana saya menceritakan kejadian dan semua pemikiran saya selam ini, malam itu saya marah, menghujat, berteriak dan menangis, merasa frustasi dan pesimis, apakah ini yang terjadi selama ini, penurunan nilai-nilai moral dan agama samapai pada titik terendah? Apakah tidak ada lagi di berbagai lapisan masyarakat
Indonesia yang bisa hidup dengan memikirkan dan peduli pada sekitarnya? Apakah setan kapitalis dengan hidup individualisme begitu merasuk dan terstruktur untuk membuat manusia
Indonesia tidak lagi mengerti sopan santun dan kewibawaan? Apakah nasionalis selain sudah pergi dari orang-orang yang mengaku para pejabat dan orang kaya sehingga saat ini sudah juga mulai meninggalkan lapisan basis paling bawah bangsa kita? Yah malam itu saya tumpahkan semua tangis dipelukan kekasih saya, dan pertanyaan terakhir saya yang hanya bisa dijawab kekasih saya dengan pelukannya yang lembut, “APAKAH KEHANCURAN MORAL DAN KEPEDULIAN SOSIAL BANGSA KITA AKAN TERUS BERLANGSUNG ATAU KAPAN KITA HARUS BERTERIAK SETOP KEHANCURAN……” 

Pesan moral : memang hal tersbut sangat sepele, namun akan menjadi sangat tidak sepele jika kita coba merenungkan kembali dan menilik sekitar kita serta tentunya diri kita, apakah selama ini yang ada dan terlihat bukan merupakan penurunan moral? Jika tidak maka abaikan hal ini dan terus menganggap hal ini sepele, jika iya maka mari bersama-sama dan secara konsisiten kita memulai dari diri sendiri, cobalah bersikap adil pada sekitar kita, cobalah bersikap baik dan manis pada sesame…., bangsa Indonesia ini membutuhkan sekali orang-orang seperti anda yang mau peka terhadap sesama.


Posted in Kritik sosial

9 Tahun tanpa kejelasan (suatu pemikiran bebas dan sederhana)

Hari ini minggu tanggal 20 Mei 2007, jam 11 malam lewat 45 menit, masih terlalu sore untuk aku merasakan istirahat, namun tidak terlalu tepat juga jika saat ini saya harus berkutat dengan pikiran-pikiran tidak menentu, yang mungkin sebagian besar orang akan mengatakan bahwa berpikir yang tidak ada guna, namun pikiran aku bukanlah seperti pikiran sebagian besar orang lain, pikiran ku adalah pikiran ku, dan pikiran ku saat ini tidaklah dapat diatur untuk berpikir yang lain, yah terlebih sore tadi aku baru saja menyaksikan kembali ulasan sebuah stasiun televisi suasta tentang sebuah kejadian 9 tahun lalu, yah reformasi ditandai dengan tewasnya 4 pahlawan reformasi dan ratusan korban kerusuhan mei, serta turunnya Suharto.

Sempat terpikir oleh ku, mungkin ini pula yang terpikir oleh orang kebanyakan, bahwa hal itu sudah seperti sebuah kejadian luar biasa yang terus akan diulang-ulang yang pada akhirnya mengkaburkan makna sebenarnya, yah tepatnya kejadian itu akan bernasib sama dengan filem pembunuhan para Jendral oleh Gerakan 30 September, yang akan kita dapat lihat ditiap tahun di bulan mei, sampai ke anak cucu kita atau setidaknya sampai bergantinya gelombang reformasi dengan gelombang baru yang entah namanya mungkin akan lebih revolusioner.

Tapi sekali lagi sayang, pikiran ku adalah pikiran ku, dan sekali lagi pikiran ku tidak bisa menerima kembali kejadian itu, bahkan tidak mungkin rasanya kalo harus menjadikan kejadian itu hanya sekedar memoria belaka yang akan dikenang dalam sebuah upacara bendera tahunan di bulan mei.

Bagaimana mungkin kita bisa hanya diam menyaksikan hal itu langsung di 9 tahun yang lalu, bagaimana mungkin kita tidak tergerak hati kita melihat ulasan-ulasan tiap tahun oleh televise-televisi, dimulai dari kekejaman militer yang pada saat itu sangat gagah perkasa menembaki mahasiswa, namun lenyap seperti tidak pernah ada militer pada saat beberapa hari kerusuhan terjadi di Jakarta, kekuasaan militer dan polisi saat itu sedang tidak terinspirasi oleh filem-filem action barat bukan, yang akan muncul setelah penjahatnya tertembak oleh sang jagoan? Atau pada saat itu bapak-bapak berseragam tidak sedang ketakutan bukan setelah sehari sebelumnya melakukan kesalahan menembaki mahasiswa?

Namun apa hendak dikata hal tersebut sudah terjadi, apa hendak dikata kalo ratusan manusia secara tidak sengaja terkunci dan terbakar dalam sebuah mall kecil, apa hendak dikata jika sebagian wanita waktu itu diperkosa (walaupun tidak diakui, karena bagaimana mungkin korban akan mengakuinya?), namun apa hendak dikata kalo pada saat itu bangsa kita berubah menjadi buas, sebuas harimau kelaparan selama 32 tahun, namun apa hendak dikata semua memang terjadi, itu mungkin yang akan ada dibenak kita semua saat ini jika mengingat masa lalu yang sangat gelap.

Betul, kali ini pikiran ku bisa diajak kompromi bahwa memang hendak dikata apa jika hal itu sudah terjadi, tapi pikiran dan hati ku kembali brontak mana kala melihat segelintir orang yang pada saat itu harusnya dapat berbuat dan bertindak namun tidak melakukannya (entah sengaja maupun tidak) dan saat ini berlomba-lomba membersihkan diri, bahkan banyak yang bercerita dengan sangat simpatik bahwa seakan-akan pada saat itu kejadian terjadi bukanlah mereka penyebabnya.

Sekali lagi betul, memang mungkin beliau-beliau yang lebih terhormat dari diriku ini bukanlah penyebabnya, tapi aku bukanlah anak kecil yang bisa ditenangkan hanya dengan mengatakan “bukan kami pelakunya”, “kami sudah perintahkan untuk menggunakan peluru karet”, “kami tidak pernah menginstruksikan hal seperti itu” dan sebagainya, tapi kami memiliki hati, memiliki pikiran “biar bagaimanapun kami ini warga masyarakat yang wajib diberi perlindungan, wajib diberi keamanan”, bagaimana mungkin seorang satpam ketika rumah majikannya dirampok, dan majikan nya tidak memecat satpam karena satpam beralasan bukan saya tuan yang merampok rumah ini….

Jika mereka yang pada saat itu berkuasa di negri ini merasa tidak bersalah atas penembakan mahasiswa, jika mereka tidak bersalah terhadap penjarahan atau pemerkosaan bahkan pembunuhan, atau sebagainya, yah setidaknya yang harus dituntut pada mereka adalah ketidak sanggupan atau keterbatasannya mengendalikan situasi/mengamankan/menentramkan dan/atau mensejahterakan bangsa ini, benar mereka harus menanggung itu, atau setidaknya maka mereka harusnya menerima hukuman moral, namun sekali lagi jika bangsa ini adalah benar bangsa yang mengerti malu, maka tidak akan membiarkan segelintir orang yang merasa tidak malu dengan kejadian itu.

Setujuhkah? Ataukah kali ini logika, hukum, dan kepatutan harus sekali lagi mengalah oleh politik? Anda, bangsa ini lah yang dapat menentukan.


Posted in Kritik sosial

    RUPA-RUPA

    ERRY C. LOEKSONO

    loeksono day

    Mei 2007
    S S R K J S M
    « Apr   Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

    Blog Stats

    • 6,872 hits