Hari ini minggu tanggal 20 Mei 2007, jam 11 malam lewat 45 menit, masih terlalu sore untuk aku merasakan istirahat, namun tidak terlalu tepat juga jika saat ini saya harus berkutat dengan pikiran-pikiran tidak menentu, yang mungkin sebagian besar orang akan mengatakan bahwa berpikir yang tidak ada guna, namun pikiran aku bukanlah seperti pikiran sebagian besar orang lain, pikiran ku adalah pikiran ku, dan pikiran ku saat ini tidaklah dapat diatur untuk berpikir yang lain, yah terlebih sore tadi aku baru saja menyaksikan kembali ulasan sebuah stasiun televisi suasta tentang sebuah kejadian 9 tahun lalu, yah reformasi ditandai dengan tewasnya 4 pahlawan reformasi dan ratusan korban kerusuhan mei, serta turunnya Suharto.
Sempat terpikir oleh ku, mungkin ini pula yang terpikir oleh orang kebanyakan, bahwa hal itu sudah seperti sebuah kejadian luar biasa yang terus akan diulang-ulang yang pada akhirnya mengkaburkan makna sebenarnya, yah tepatnya kejadian itu akan bernasib sama dengan filem pembunuhan para Jendral oleh Gerakan 30 September, yang akan kita dapat lihat ditiap tahun di bulan mei, sampai ke anak cucu kita atau setidaknya sampai bergantinya gelombang reformasi dengan gelombang baru yang entah namanya mungkin akan lebih revolusioner.
Tapi sekali lagi sayang, pikiran ku adalah pikiran ku, dan sekali lagi pikiran ku tidak bisa menerima kembali kejadian itu, bahkan tidak mungkin rasanya kalo harus menjadikan kejadian itu hanya sekedar memoria belaka yang akan dikenang dalam sebuah upacara bendera tahunan di bulan mei.
Bagaimana mungkin kita bisa hanya diam menyaksikan hal itu langsung di 9 tahun yang lalu, bagaimana mungkin kita tidak tergerak hati kita melihat ulasan-ulasan tiap tahun oleh televise-televisi, dimulai dari kekejaman militer yang pada saat itu sangat gagah perkasa menembaki mahasiswa, namun lenyap seperti tidak pernah ada militer pada saat beberapa hari kerusuhan terjadi di Jakarta, kekuasaan militer dan polisi saat itu sedang tidak terinspirasi oleh filem-filem action barat bukan, yang akan muncul setelah penjahatnya tertembak oleh sang jagoan? Atau pada saat itu bapak-bapak berseragam tidak sedang ketakutan bukan setelah sehari sebelumnya melakukan kesalahan menembaki mahasiswa?
Namun apa hendak dikata hal tersebut sudah terjadi, apa hendak dikata kalo ratusan manusia secara tidak sengaja terkunci dan terbakar dalam sebuah mall kecil, apa hendak dikata jika sebagian wanita waktu itu diperkosa (walaupun tidak diakui, karena bagaimana mungkin korban akan mengakuinya?), namun apa hendak dikata kalo pada saat itu bangsa kita berubah menjadi buas, sebuas harimau kelaparan selama 32 tahun, namun apa hendak dikata semua memang terjadi, itu mungkin yang akan ada dibenak kita semua saat ini jika mengingat masa lalu yang sangat gelap.
Betul, kali ini pikiran ku bisa diajak kompromi bahwa memang hendak dikata apa jika hal itu sudah terjadi, tapi pikiran dan hati ku kembali brontak mana kala melihat segelintir orang yang pada saat itu harusnya dapat berbuat dan bertindak namun tidak melakukannya (entah sengaja maupun tidak) dan saat ini berlomba-lomba membersihkan diri, bahkan banyak yang bercerita dengan sangat simpatik bahwa seakan-akan pada saat itu kejadian terjadi bukanlah mereka penyebabnya.
Sekali lagi betul, memang mungkin beliau-beliau yang lebih terhormat dari diriku ini bukanlah penyebabnya, tapi aku bukanlah anak kecil yang bisa ditenangkan hanya dengan mengatakan “bukan kami pelakunya”, “kami sudah perintahkan untuk menggunakan peluru karet”, “kami tidak pernah menginstruksikan hal seperti itu” dan sebagainya, tapi kami memiliki hati, memiliki pikiran “biar bagaimanapun kami ini warga masyarakat yang wajib diberi perlindungan, wajib diberi keamanan”, bagaimana mungkin seorang satpam ketika rumah majikannya dirampok, dan majikan nya tidak memecat satpam karena satpam beralasan bukan saya tuan yang merampok rumah ini….
Jika mereka yang pada saat itu berkuasa di negri ini merasa tidak bersalah atas penembakan mahasiswa, jika mereka tidak bersalah terhadap penjarahan atau pemerkosaan bahkan pembunuhan, atau sebagainya, yah setidaknya yang harus dituntut pada mereka adalah ketidak sanggupan atau keterbatasannya mengendalikan situasi/mengamankan/menentramkan dan/atau mensejahterakan bangsa ini, benar mereka harus menanggung itu, atau setidaknya maka mereka harusnya menerima hukuman moral, namun sekali lagi jika bangsa ini adalah benar bangsa yang mengerti malu, maka tidak akan membiarkan segelintir orang yang merasa tidak malu dengan kejadian itu.
Setujuhkah? Ataukah kali ini logika, hukum, dan kepatutan harus sekali lagi mengalah oleh politik? Anda, bangsa ini lah yang dapat menentukan.
Gue punya perasaan yang sama seperti elu, bertanya-tanya tentang peristiwa tersebut. Muak akan penanganan dan penyelesaian yang terlalu lama (mungkin “mereka” berharap dan berpikir bahwa kita lama-lama akan melupakan peristiwa tersebut dan menganggap hal itu tidak pernah terjadi!! thx GOD, elu dan gue merupakan segelintir orang yang tidak sesuai dengan ekspetasi “mereka”). Namun sayang nya, elu dan gue juga tidak bisa berbuat apa-apa! Menuangkan pikiran elu dalam blog ini, dan menuliskan pikiran gue dalam comment ini bukan merupakan suatu hal yang bisa menyelesaikan masalah tersebut kan??
jadi apa yang bisa gue berikan??
Komentar oleh DayDreamer — Oktober 25, 2007 @ 4:58 pm
Disini ada cerita
Tentang kita yang mau berbagi cinta
Dengan sesama manusia
Disini ada cerita
Tantang kita yang menderita
Karena cinta pada manusia
Disini ada cerita
http://www.pena-98.com
http://www.adiannapitupulu.blogspot.com
Komentar oleh sekjen — Desember 8, 2007 @ 4:44 am
aq bingung….
Komentar oleh yuni — April 9, 2008 @ 3:17 am