Beberapa minggu lalu ada yang bertanya pada ku, apa kah bedanya filsafat dan agama? bisakah kamu jelaskan?
Lalu aku berpikir sejenak untuk menyusun kata-kata
Begini, menurut saya sebelum kita menyentuh kata-kata “filsafat” maupun “agama” ada baiknya jika kita melihat dan menyadari terlebih dahulu mengenai sifat dasar manusia. apakah sifat dasar manusia itu? yah banyak sekali sifat dasar manusia, namun dalam hal ini yang saya maksud adalah sifat dasar manusia untuk meniru, meniru prilaku, cara berpikir, cara berjalan, cara berbicara dan segala hal dari manusia-manusia sebelumnya, namun ada improfisasi dari generasi ke generasi, abad ke abad, peradaban yang satu ke peraadaban yang lain. Contoh anak balita yang melihat ayahnya dan menirukan berjalan-maka tidak heran kalo di filem tarsan, si tarsan berjalan seperti gorila karena contohnya adalah gorila.
Oleh karena sifat dasar itu dan improfisasi yang dimiliki, maka manusia dari sejak jauh sebelum peradaban hidup dengan meniru dan improf, namun pada kenyataannya kehidupan manusia sejak jauh sebelum peradaban banyak menimbulkan misteri dan pertanyaan yang belum dapat terjawab seperti dari mana air yang jatuh dari langit itu, dari mana munculnya benda berwarna merah ke kilauan yang sangat menyakitkan kalo terkena (dibaca api) dsbnya, oleh karena sifat improf (istilah keren nya inovasi karena berpikir) maka manusia terus mencari dan menemukan jawaban, bersamaan itu pula tanpa disadari manusia itu, sifat berpikir dan improfnya semakin memperbanyak kata “apa, mengapa, dari mana, bagaimana dsb”
Hal tersbut diatas terus berlangsung dan terus bertambah banyak (kali ini kita telah tau dan belajar ttg mulanya peradaban muncul), hal berpikir untuk menjawab dan terus memunculkan kembali pertanyaan baru itulah yang kita sebut Filsafat, jadi Filsafat merupakan proses berpikir, menemukan jawaban atas realitas2 hidup, persoalan dan pertanyaan manusia yang muncul, sifatnya tidak pernah berhenti dan terus-terus bergulir… (oke, kita telah belajar 1 hal lagi yaitu “arti filsafat” – setidaknya sesuai dengan fersiku, heheheee… )
Banyak bermunculan persoalan/pertanyaan dan tidak sedikit pula bermunculan jawban atas pertanyaan itu, dan tentunya semakin banyak pertanyaan baru bermunculan salah satunya Siapakah aku, dari mana asal ku, siapakah yang menciptakan aku, adakah kekuatan lain yang menguasai aku, siapakah dia, apakah aku diciptakan olehnya juga dsbnya dsbnya dsbnya….. Dalam menjawab pertanyaan2 tersebut setiap manusia akan menemukan jawabannya sendiri-sendiri, kemudian ada sebagian kecil yang memiliki jawaban, adapaun jawabannya itu muncul/terinspirasi dengan cara-cara / pengalaman-pengalaman / realitas-realitas yang berbeda-beda dan ditanggapi pula berbeda-beda, yang oleh kerja dan perjuangan panjang kelompok kecil tersebut menjadikan jawaban mereka sesuatu yang mutlak dan kultus, serta menjadi pendapat publik… ini berkembang yang pada akhirnya menjadi sebuah doktrin, yaitu yang nantinya menjadi “Agama” (setelah berubah menjadi Agama maka dapat dikatakan proses berfilsafat disini berhenti/setidaknya harus dengan landasan doktrin agamalah umat nya harus berpikir, padahal kita tahu kalo sebuah proses filsafat tidaklah mutlak dan akan terus berubah berputar dan sangat terpengaruh sekali oleh pemikir dan situasi jaman)
Proses filsafat sebenarnya harus tetap terus bergulir dan berlangsung… keep think and give Q?
terima kasih
Hari ini hari selasa, mau pulang kerumah cuma lagi males, kerjaan numpuk pun malas untuk menyelesaikannya… hehehee
seperti biasa dari pada ga ada yang dikerjakan lebih baik berkutat dengan pikiran..
Aku lagi teringat perkataan seseorang yang cukup tua, diusianya yang renta ia pernah bercerita tentang CiNtA… cinta antara peria dan wanita… cinta antara suami dan istri, cukup mengejutkan dan membuat saya tersentak namun sekaligus membuatku terus berpikir tentang hal itu
Menurutnya percintaan antara peria dan wanita, suami dan istri adalah seperti burung dilangit, sepanjang hari mereka berterbangan hilir mudik ke arah manapun, lalu pada saat senja datang burung peria dan burung wanita hinggap di satu dahan yang sama pada sebuah pohon yang rindang, menghabiskan malam berdua, menikmati detik2 yang berlalu berdua…
Lalu pagi harinya fajar mulai menyingsing kemudian lekas2lah si burung jantan terbang meninggalkan dahan ke arah barat dan si burung betina terbang ke arah timur, entah kemana tujuan mereka, yang pasti saling meninggalkan dan pergi sejauh-jauhnya
Seketika itu saya spontan bertanya, apakah nanti malam mereka akan bertemu kembali dalam satu dahan pohon? dia menjawab dengan senyum, sambil berlalu dia berkata, “apakah mereka akan bertemu kembali? tidak akan ada yang tahu….”
Tinggallah aku yang duduk termenung mendengar jawaban itu…
apa kiranya gerangan maksud dari ini semua? apakah ada maksud tersembunyi didalamnya? atau memang benarkah semua itu?
Ada yang berpendapat, setidaknya pendapat inilah yang paling dapat diterima dalam lubang otak ku yang kecil, yaitu : segala sesuatu tidak ada yang abadi, termasuk cinta seorang peria dan wanita, janganlah kita memikirkan itu sehingga itu menjadi pelekatan bagi kita, semua nya ada saat datang ada saat kembali…
Semoga makna cinta seperti demikian… walaupun sampai dengan saat ini aku masih belum dapat menemukannya sendiri, bahkan hanya untuk sekedar bisa menerima pendapat si orang tua itu…
gimana pendapat teman-teman?
lelah rasanya aku berjalan
berjalan dari sisi paling kanan hidupku
menuju paling kiri
tak tau apa yang harus dicari
namun aku ini Manusia super
aku tidak boleh Lelah
aku harus Menemukan
aku tidak peduli walaupun kiriku tidak
berujung
hai… Kau jangan hanya tersenyum…
hai… Kau bukankah ini ulah mu dengan
membuat aku super?
hai… jangan salahkan aku kalau suatu
saat aku muak pada MU
karena sejujurnya aku sudah mulai lelah
dengan semua ironi ini, ironi dari Mu…
Haruskah aku kembali, kembali ke kanan
terbuai dengan kesuperan aku yang Kau
berikan?
wartawan yang berasal dari amerika, negara yang menomor satukan HAK ASASI MANUSIA, sedang berbincang santai namun formal dengan seorang Jendral, seorang pemimpin diktator sebuah negara komunis di benua afrika.
wartawan memulai wawancara dengan pertanyaan simple, tanyanya “Jendral, anda terkenal sekali sebagai pemimpin yang berkarisma, wibawa dan sangat dicintai oleh keluarga… apa pendapatmu?”
Jendral itu hanya tersenyum dan menjawab singkat “saya hanya mencoba menjadi bapak yang baik yang memberikan contoh yang baik buat keluarga saya.”
melihat jawaban dan senyuman sang Jendral tadi wartawan tersebut merasa mendapat tanda bahwa ia dapat melanjutkan pertanyaan2 yang lebih kritis kepada sang Jendral, memang wartawan yang satu ini memang sangat terkenal dalam memberikan pertanyaan2 bagus dan sekaligus menjebak, banyak sudah tokoh dunia yang terkecoh dengan pertanyaannya…
wartawan tadi kembali bertanya “Jendral, anda sangat terkenal sebagai tokoh yang kharismatik, tokoh yang pandai, tokoh yang pandai dalam mendoktrin dan menanamkan idiologi2 komunis, bahkan anda sebagai tokoh diktator no 1 dunia, apakah ini mengganggu anda? mengganggu hub anda dengan keluarga? dan bagaimana mungkin anda bisa sangat diktator dan selalu mengdoktrin bangsa anda seperti itu, bukankah itu buruk?’
Sang Jendral kembali tersenyum, namun walaupun demikian nampak jelas, senyumnya benar2 tulus, bukan senyum tipuan seperti tokoh2 diktator lainnya yang tersenyum dengan licik atau bermakna lain, kemudian ia langsung berbalik memberikan pertanyaan kepada wartawan itu
J : “kamu berasal dari amerika?”
W : “yes, i am..”
J : “amerika negara dambaan, negara besar yang menjadi impian setiap demokrasi, setiap org yang berharap hak asasi…”
W : “yes sirr, that’s right… dan saya bangga olehnya”
J : “bolehsaya bertanya lagi?”
W : “dengan senang hati Jendral”
J : “kamu punya anak?”
W : “yap..”
J : “apakah kamu mendidik anakmu dengan baik, termasuk mendidik agama?”
w : “ya tentu, saya sangat konsen dengan pendidikan anak saya, bahkan untuk agama saya terapkan padanya sejak mereka lahir, maaf aku agak watir kalo mereka besar kelak tidak mengenal Tuhan sehingga akan berbuat sangat buruk…”
Jendral tersenyum kembali, hanya kali ini senyumnya lebih sumringah dibanding sebelumnya, hal ini membuat sang wartawan menjadi bingung dan mengerenyitkan dahinya sambil bertanya : “kenapa Jendral tersenyum seperti itu?”
J : “yah kalo begitu kamu telah menemukan jawaban dari pertanyaan mu ttg mengapa saya bisa sejahat dan tidak memperhatikan hak asasi manusia dengan mengdoktrin dan memimpin rakyatku dengan diktator… karena pada dasarnya kita sama… seperti kamu mendoktrin dan menentukan apa agama dan kepercayaan mu pada anakmu…”
Wartawan menjadi sangat terkaget-kaget sambil membelalakan matanya, belum habis kekagettan wartawan tersebut, sang Jendral kembali bertanya “apakah negaramu membiarkan org tua-org tua di negaranya memaksa dan bertindak melanggar hak asasi anak2nya?”
belum sempat wartawan mengajukan pembelaan, sang jendral sudah terlanjur berlalu meninggalkannya sambil tersenyum…
so apa pendapat pembaca?? semua terserah pada kalian menilai, penulis tidak mau menentukannya karena tidak mau melanggar hak asasi manusia… karena melanggar hak asasi manusia identik dengan kejahatan, identik dengan diktator dsb…