Teman-teman siapa yang sudah menonton film DIE HARD 4? wah pastinya banyak yah? Seru, menegangkan dan cool tentunya itu yang muncul di mulut kita setelah melihatnya, hahahaa tapi ga sedikit yang merasa ngeri dan terancam, sedikit berandai-andai dengan tindakan teroris yang digambarkan dalam film itu, membajak dan mmbuat semua kegiatan public di negara paman sam itu kacau balau.. bagaimana jadinya jika teroris tersebut terjadi di Indonesia ini, negri tercinta kita wih bisa dibayangkan serem. Seperti yang terjadi dalam film itu dimana saat terjadi kekacauan lalu lintas yang sangat luar biasa karena lampu lalu lintas yang rusak, pembajakan saluran televisi dan saran publik lainnya, listrik di seluruh negri dimatikan dsbnya.
Saya rasa ga cuma kita yang watir kalo itu terjadi di negara kita, negara lain pun sangat ketakutan dengan hal2 seperti itu.
tapi menrut teman ku ada kabar gembira buat Indonesia,
apakah itu?
bahwa hal2 seperti itu ga akan membuat bangsa Indonesia takut,
loh mengapa bisa begitu?
yah karena seandainya terjadipun maka org Indonesia ga perlu watir dan merasa terancam dengan aksi teror seperti itu, coba bayangkan,
1. bukannya udah biasa tuh lampu merah di jalanan sekitar kita mati/rusak berhari-hari? bahkan ga rusakpun kita tidak terlalu pedulikan?
2. mati listrik bukanlah hal yang menjadi tragedi buat bangsa kita, bayangkan saja kita sering sekali kan mati lampu, tanpa sebab atau alasan atau ga jarang juga yang tanpa pemberitahuan? jad benarkan kita ga takut?
3. lalu kalo di US org takut tidak bisa kontak 911 nya karena salurannya dibajak, maka di Indonesia ga akan jadi problem, karena tanpa dibajakpun telpon layanan publik kita ga jarang tidak digunakan efektif? bahkan kadang dilayani dengan asal-asalan..
4. dsbnya
(hahhaaa kali ini teman-teman sudah mulai sedikit mengerti bukan, dan saya rasa anda mulai tersenyum dengan kondisi Indonesia kita bukan? hehehehe)
nah dengan alasan2 diatas saja saya rasa sudah cukup membuat para teroris berpikir dua kali melakukan aksi teror seperti di film Die hard 4 bukan? seandainya nih kalo ternyata teroris masih mau mencoba melakukan hal2 tersebut maka, teroris akan merasa lebih frustasi lagi karena pada saat meminta tebusan kenegara (Presiden) maka akan dijawab dan direspon lama karena Presiden akan berkonsultasi dulu dengan DPR (jangan sampai nanti putusan beliau akan di interplasi karena bertindak ceroboh) kebayangkan teroris akan nunggu lama untuk itu.
(hahahaa, saya rasa anda mulai benar-benar tertawa kali ini)
nah seandainya lagi sang teroris org sabar yang menunggu, dan akhirnya dia akan mendapat uang tebusan dari negara, maka ia akan benar2 shiok.. karena bisa saja tebusannya itu akan dimintakan pembayaran bertahap alias dihutang (taukan kebiasaan pinjaman negara, hehehe), belum lagi teroris akan harus membagi / menyediakan sejumlah uang dari hasil terornya untuk mebagi pada oknum2 pejabat korup berperut buncit agar uang tebusan tersebut bisa lebih cepat cair… (taukan di sini gituloh, ktp aja bayar…)
Setelah uang teroris tersebut diperoleh (setelah potong sana potong sini) kini tiba gilirannya si teror akan kerepotan karena didatengi oleh oknum pejabat kantor pajak dan dikenakan biaya siluman pajak yang jumlahnya cukup bikin serangan jantung teroris kumat.
(wah-wah hahahahhaaa kali ini aku benar-benar tertawa ga tahan menceritakannya)
Kini teman-teman sudah taukan mengapa di Indonesia teroris seperti dalam film die hard4 tidak mungkin ada… alias si teroris akan berpikir beribu-ribu kali, mungkin gini kali yang digumamkan “gile udah neror susah dan resiko tinggi, dapetnya ga seberapa belom pusing ma yang gitu-gitu… udah ah ogut males” hahhahahahhaaaaaaaaa
So amankan di Indonesia?
Pesan Moral : apakah separah itu bangsa kita? siapa yang masih peduli untuk Indonesia?
Saya ada membaca iklan lowongan pekerjaan, sangat menarik mungkin anda berminat? silakan membaca/mungkin merasa berkepentingan untuk menambahkan syarat2nya? mudah kirimkan komen anda…. good luck…. heheheheee……
|
IKLAN LOWONGAN KERJA Kami adalah sebuah bangsa besar yang sedang berkembang mencari orang-orang yang tidak harus berpendidikan tinggi namun tahu cara hidup yang sehat jiwa, untuk ditempatkan dalam posisi : 1. Pemerintahan (dari posisi Presiden s/d Ketua RT) Syarat : - Peka dan berorientasi memperhatikan kepentingan bangsa dan masyarakat - Menjunjung tinggi hukum dibandingkan kepentingan politik (harus) - Reformis dan Anti Korupsi - Mencintai rakatnya - Menyukai uang kecuali uang rakyatnya - Memiliki malu - Dan bersedia mati demi bangsanya
2. Politikus (dari parlement s/d jalanan) Syarat : - Peka dan sangat memperhatikan kepentingan bangsa dan masyarakat - Menjunjung tinggi hukum dibandingkan kepentingan politik (harus) - Reformis dan Anti Korupsi - Mencintai rakyatnya - Menyukai uang kecuali uang rakyatnya - Memiliki malu – Memiliki etika dalam berpolitik sehingga tidak menyelesaikan masalah bangsa hanya dengan kepentingan politik kelompoknya - Dan bersedia mati demi bangsanya
3. Warga Negara yang baik Syarat : - Bermoral dan berkelakuan baik - Mencintai bangsanya - Bersedia kontra dengan pejabat yang korup - Menyukai uang kecuali uang haram - Memiliki malu - Memiliki etika hidup dan bertanggung jawab atas kelangsungan penerusnya - Dan bersedia mati demi bangsanya
Jika anda tidak tahu malu dan merasa cocok dengan salah satu posisi beserta dengan syaratnya maka kami tunggu Sekretariat Negara Republik Babak Belur Melulu
|
Malam itu seperti biasa saya pulang dari kantor menuju rumah dengan menggunakan busway, dengan tenaga dan semangat yang hamper-hampir tidak ada saya memaksakan diri untuk terus berjalan menuju halte busway dekat kantor, setelah kurang lebih 20 menit menunggu saya akhirnya mendapatkan ruang untuk bisa naik kedalam bus tersebut, sempit memang dengan sedikit menabrak kanan dan kiri akhirnya sampailah saya dalam posisi terjepit diantara penumpang bus, disebelah kanan saya ada seorang laki-laki yah mungkin sekitar usia 37 tahun, dan samping kanan saya adalah wanita seusia dengan menggunakan jilbab, posisi kami berdiri berjejer bergantungan persis seperti mahluk yang hidup menggelanyut dari pohon ke pohon yang lain, di depan kami berjejer yang kebetulan para wanita yang mendapatkan tempat duduk.
setelah sekian lama bus berjalan sampai pada akhirnya berhenti di sebuah pemberhentian, dan satu orang wanita yang semula duduk dihadapan kami berdiri dengan maksud turun dihalte tersebut, namun dengan sangat tiba-tiba belum sempat wanita itu berdiri sempurn, pria yang semula berdiri disisi kanan saya sudah menaruhkan hampir seperempat tubuhnya di atas kursi sang wanita, saat itupula kontan saya menepuk pundak sang pria (entah setan dari mana yang bisa membuat saya berani untuk melakukan itu, karena biasanya saya tidak terlalu mau mencampuri urusan orang lain) dan mengatakan “mas berikan saja kursi itu untuk embak yang disisi kiri saya”, karena saya perhatikan jika bergelantungan seperti saya tidaklah akan nyaman bagi kebanyakan wanita, namun sekali lagi seperti petir menyengat dan mematikan saya secara berdiri, pria itu tidak perduli dan tetap duduk serta memberikan pandangan, mengancam dan marah pada diri saya.
Pada saat itu pula sontak saya hanya bisa diam, dan sesaat otak saya tidak bisa berpikir apa-apa, yang ada hanya adrenalin saya yang terpacu, nafsu untuk marah, nafsu untuk berteriak, nafsu untuk menangis, sesaat kemudian saya teringat kembali kejadian 3 bulan lalu, dimana pada saat itu saya dengan sombongnya memberikan alasan pada kekasih saya tentang mengapa saya rela tidak lagi menggunakan mobil pribadi saya untuk pergi kekantor, teringat kembali bahwa saya melontarkan perkataan bahwa saya dengan mencoba menggunakan kendaraan umum saya mau membuktikan bahwa orang-orang yang tidak mampu memiliki mobil sendiri adalah orang-orang yang lebih peka dan lebih bermoral dibandingkan orang-orang kaya, saya lebih bisa menikmati hidup sehat jiwa bila berkumpul dengan mereka, saya akan muak dengan aturan-aturan dan kamuflase moral dari orang-orang yang lebih beruntung hidupnya.
Terpukul rasanya bahwa ternyata dugaan saya salah, dan saya coba kemabli mengingat-ngingat kejadian selama 3 bulan saya menggunakan busway, mencari-cari apakah lebih banyak kejadian simpatik dibandingkan kejadian memuakan seperti yang baru saja terjadi didepan hidung saya. Yah saya menarik nafas berat, ternyata lebih banyak kejadian yang memuakkan yang terjadi. Lebih banyak wanita / manusia lanjut usia berdiri karena ego peria-peria tidak bermoral itu, belum lagi banyak wanita-wanita yang secara langsung maupun tidak langsung yang mengalami asusila di dalam kendaraan tersebut, lemas rasanya dengkul ini…… ternyata selama ini kesombongan saya pada kekasih saya terbukti 1-0 kemenangan ditangan kekasih saya…
Setibanya dirumah saya buru-buru mandi dan menuju ke rumah kekasih saya, disana saya menceritakan kejadian dan semua pemikiran saya selam ini, malam itu saya marah, menghujat, berteriak dan menangis, merasa frustasi dan pesimis, apakah ini yang terjadi selama ini, penurunan nilai-nilai moral dan agama samapai pada titik terendah? Apakah tidak ada lagi di berbagai lapisan masyarakat
Indonesia yang bisa hidup dengan memikirkan dan peduli pada sekitarnya? Apakah setan kapitalis dengan hidup individualisme begitu merasuk dan terstruktur untuk membuat manusia
Indonesia tidak lagi mengerti sopan santun dan kewibawaan? Apakah nasionalis selain sudah pergi dari orang-orang yang mengaku para pejabat dan orang kaya sehingga saat ini sudah juga mulai meninggalkan lapisan basis paling bawah bangsa kita? Yah malam itu saya tumpahkan semua tangis dipelukan kekasih saya, dan pertanyaan terakhir saya yang hanya bisa dijawab kekasih saya dengan pelukannya yang lembut, “APAKAH KEHANCURAN MORAL DAN KEPEDULIAN SOSIAL BANGSA KITA AKAN TERUS BERLANGSUNG ATAU KAPAN KITA HARUS BERTERIAK SETOP KEHANCURAN……”
Pesan moral : memang hal tersbut sangat sepele, namun akan menjadi sangat tidak sepele jika kita coba merenungkan kembali dan menilik sekitar kita serta tentunya diri kita, apakah selama ini yang ada dan terlihat bukan merupakan penurunan moral? Jika tidak maka abaikan hal ini dan terus menganggap hal ini sepele, jika iya maka mari bersama-sama dan secara konsisiten kita memulai dari diri sendiri, cobalah bersikap adil pada sekitar kita, cobalah bersikap baik dan manis pada sesame…., bangsa Indonesia ini membutuhkan sekali orang-orang seperti anda yang mau peka terhadap sesama.
Hari ini minggu tanggal 20 Mei 2007, jam 11 malam lewat 45 menit, masih terlalu sore untuk aku merasakan istirahat, namun tidak terlalu tepat juga jika saat ini saya harus berkutat dengan pikiran-pikiran tidak menentu, yang mungkin sebagian besar orang akan mengatakan bahwa berpikir yang tidak ada guna, namun pikiran aku bukanlah seperti pikiran sebagian besar orang lain, pikiran ku adalah pikiran ku, dan pikiran ku saat ini tidaklah dapat diatur untuk berpikir yang lain, yah terlebih sore tadi aku baru saja menyaksikan kembali ulasan sebuah stasiun televisi suasta tentang sebuah kejadian 9 tahun lalu, yah reformasi ditandai dengan tewasnya 4 pahlawan reformasi dan ratusan korban kerusuhan mei, serta turunnya Suharto.
Sempat terpikir oleh ku, mungkin ini pula yang terpikir oleh orang kebanyakan, bahwa hal itu sudah seperti sebuah kejadian luar biasa yang terus akan diulang-ulang yang pada akhirnya mengkaburkan makna sebenarnya, yah tepatnya kejadian itu akan bernasib sama dengan filem pembunuhan para Jendral oleh Gerakan 30 September, yang akan kita dapat lihat ditiap tahun di bulan mei, sampai ke anak cucu kita atau setidaknya sampai bergantinya gelombang reformasi dengan gelombang baru yang entah namanya mungkin akan lebih revolusioner.
Tapi sekali lagi sayang, pikiran ku adalah pikiran ku, dan sekali lagi pikiran ku tidak bisa menerima kembali kejadian itu, bahkan tidak mungkin rasanya kalo harus menjadikan kejadian itu hanya sekedar memoria belaka yang akan dikenang dalam sebuah upacara bendera tahunan di bulan mei.
Bagaimana mungkin kita bisa hanya diam menyaksikan hal itu langsung di 9 tahun yang lalu, bagaimana mungkin kita tidak tergerak hati kita melihat ulasan-ulasan tiap tahun oleh televise-televisi, dimulai dari kekejaman militer yang pada saat itu sangat gagah perkasa menembaki mahasiswa, namun lenyap seperti tidak pernah ada militer pada saat beberapa hari kerusuhan terjadi di Jakarta, kekuasaan militer dan polisi saat itu sedang tidak terinspirasi oleh filem-filem action barat bukan, yang akan muncul setelah penjahatnya tertembak oleh sang jagoan? Atau pada saat itu bapak-bapak berseragam tidak sedang ketakutan bukan setelah sehari sebelumnya melakukan kesalahan menembaki mahasiswa?
Namun apa hendak dikata hal tersebut sudah terjadi, apa hendak dikata kalo ratusan manusia secara tidak sengaja terkunci dan terbakar dalam sebuah mall kecil, apa hendak dikata jika sebagian wanita waktu itu diperkosa (walaupun tidak diakui, karena bagaimana mungkin korban akan mengakuinya?), namun apa hendak dikata kalo pada saat itu bangsa kita berubah menjadi buas, sebuas harimau kelaparan selama 32 tahun, namun apa hendak dikata semua memang terjadi, itu mungkin yang akan ada dibenak kita semua saat ini jika mengingat masa lalu yang sangat gelap.
Betul, kali ini pikiran ku bisa diajak kompromi bahwa memang hendak dikata apa jika hal itu sudah terjadi, tapi pikiran dan hati ku kembali brontak mana kala melihat segelintir orang yang pada saat itu harusnya dapat berbuat dan bertindak namun tidak melakukannya (entah sengaja maupun tidak) dan saat ini berlomba-lomba membersihkan diri, bahkan banyak yang bercerita dengan sangat simpatik bahwa seakan-akan pada saat itu kejadian terjadi bukanlah mereka penyebabnya.
Sekali lagi betul, memang mungkin beliau-beliau yang lebih terhormat dari diriku ini bukanlah penyebabnya, tapi aku bukanlah anak kecil yang bisa ditenangkan hanya dengan mengatakan “bukan kami pelakunya”, “kami sudah perintahkan untuk menggunakan peluru karet”, “kami tidak pernah menginstruksikan hal seperti itu” dan sebagainya, tapi kami memiliki hati, memiliki pikiran “biar bagaimanapun kami ini warga masyarakat yang wajib diberi perlindungan, wajib diberi keamanan”, bagaimana mungkin seorang satpam ketika rumah majikannya dirampok, dan majikan nya tidak memecat satpam karena satpam beralasan bukan saya tuan yang merampok rumah ini….
Jika mereka yang pada saat itu berkuasa di negri ini merasa tidak bersalah atas penembakan mahasiswa, jika mereka tidak bersalah terhadap penjarahan atau pemerkosaan bahkan pembunuhan, atau sebagainya, yah setidaknya yang harus dituntut pada mereka adalah ketidak sanggupan atau keterbatasannya mengendalikan situasi/mengamankan/menentramkan dan/atau mensejahterakan bangsa ini, benar mereka harus menanggung itu, atau setidaknya maka mereka harusnya menerima hukuman moral, namun sekali lagi jika bangsa ini adalah benar bangsa yang mengerti malu, maka tidak akan membiarkan segelintir orang yang merasa tidak malu dengan kejadian itu.
Setujuhkah? Ataukah kali ini logika, hukum, dan kepatutan harus sekali lagi mengalah oleh politik? Anda, bangsa ini lah yang dapat menentukan.
Hari ini aku mendapatkan surat kedua dari temanku yang sedang menuntut ilmu jauh di negri orang, dalam surat pertama ia menceritakan tentang kebobrokan manusia di negri yang banyak orang katakan indah, berbudaya dan ramah, dan untuk surat yang kedua ini entah apa yang akan ia ceritakan, yang pati aku sudah tidak sabar lagi untuk membuka dan segera membacanya.
”Negri Indah, 4 April 2007
Dear sahabat ku, Apa kabarmu? Bagaimana kesibukan dan pekerjaanmu? Jika tidak salah ingat temapat kerjamu bergerak dalam bidang pertambangan bukan? Bagaimana dengan perusahaanmu? Apakah perusahaan tambang tempat kamu bekerja tetap memperhatikan lingkungan dan alam sekitar? Hahahaaa…. kamu pasti bingung dan heran kenapa aku tiba-tiba bertanya tentang itu, dan kamu pasti sudah tidak sabar untuk memprotes dan memberikan beribu argumen yang membela perusahaan dimana kamu bekerja yang selalu memperhatikan dan menjaga lingkungan alam, sabar sahabatku, aku tahu bahwa perusahaan dimana kamu bekerja sangat-sangat memperhatikan alam, sangat menjaga dan tidaklah tamak berpikir hanya untuk mengambil keuntungan pribadi semata, namun kamu tahu, bahwa di negri ini, di negri tempat aku berada saat ini sangatlah jauh berbeda, kamu kali ini pasti menjadi heran dan bingung bukan? Baiklah akan aku ceritakan, ini terjadi di tahu lalu, ada sebuah perusahaan tambang yang sangat besar, dimana salah satu pemiliknya adalah seorang yang dibesarkan oleh uang dan kasih sayang jendral rakus penguasa negri ini di orde yang lalu, kita sebut saja pengusaha itu adalah Badrun, nah mungkin kamu kini tahu siapa yang sedang aku ceritakan? Yah betul Badrun & Brothers (BB), memang sangatlah terkebal corporasi itu, bahkan saat ini ia juga menjabat mentri sosial, luar biasakan? Bagaimana bisa itu terjadi? Aku rasa kita tidak perlu membahas itu, kita fokus pada hal yang sejak awal ingin aku ceritakan saja. Singkat cerita salah satu anak usaha dari BB mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola gas bumi di suatu loksai yang tidak terlalu jauh dari penduduk, bahkan tidak jauh dari salah satu kota besar yang terkenal di negri ini. Namun dalam upaya menggali konon tiba-tiba saja tanpa diduga terkena pada lapisan gas dan lumpur yang mengakibatkan keluarnya lumpur panas terus menerus dari lubang galian itu, kamu tahu apa yang terjadi dengan lumpur itu? Lumpur itu membanjiri seluruh wilayah di sekitar tempat itu, entah sudah tak terhitung beribu rumah terbanjiri oleh lumpurnya, segala upaya konon katanya telah dilakukan untuk menghentikannya, entah karena tenaga ahli-tenaga ahli disini yang bodoh atau bagaiamana sehingga semburan itu tidak bisa lagi dicegah atau dihentikan, dan yang teranehnya Pemerintah negri ini tidak sama sekali mengambil tindakan hukum kepada perusahaan itu, atau setidaknya adalah sanksi moral yang diberikan pada si Badrun sang mentri sosial yang mengakibatkan keterpurukan sosial masyarakat sekitar tambang itu, ironi bukan? Hanya di negri ini saja yang seorang mentri sosialnya demikian. Hahahahaa… temanku kamu jangan tertawa terlebih dahulu, karena ini bukanlah suatu cerita humor ataupun lelucon, ini menyangkut nyawa hidup sekian ribu manusia yang hidup disekitar tempat itu, aku tidak tahu lagi berapa kerugian moral, materi yang diderita? Dan aku juga tidak tahu apakah ini akan menjadi petaka yang tidak ada akhirnya? Yang jelas sampai dengan saat ini tetap berlangsung. Kamu tahu rumah-rumah yang sudah tidak mungkin lagi bisa digunakan karena penuh terisi lumpur, tangisan si pemilik di penampungan-penampungan, hai bung ini bukan masa perang, mereka bukan sedang ditawan oleh tentara NAZI, mereka manusia merdeka, kenapa mereka harus kelaparan karena hanya memakan nasi bungkus dengan lauk yang jauh lebih sederhana dibanding lauk di Warteg, mereka tidak sedang hidup dalam jajahan sehingga anak-anak mereka tidak bisa sekolah, dan satu yang terpenting mereka tidak pernah sedikitpun memakan dan menikmati uang dari B&B namun kenapa mereka harus menanggung dosa perbuatan Badrun, mengapa mereka harus membayar kesalahan hidup hedonis keluarga Badrun, kenapa mereka yang membayarnya dengan harta mereka yang Cuma segitu, sedangkan mereka tidak pernah sekalipun naik mobil mewah si Badrun, bahkan mereka tidak pernah sekalipun mencium aroma wangi parfum mahal wanita-wanita yang hidup dalam lingakaran kemewahan anak-anak Badrun. Ironi, sekali lagi ironi. Mungkin secara teknis dunia pertambangan aku tidak bisa berkomentar banyak, karena aku tahu kamu pasti lebih tahu dan ahli dalam hal itu, namun aku ingin sedikit melontarkan protes, teriakan ketidak terimaan aku dengan kondisi ini kepadamu, setidaknya biar aku sesikit puas, puas karena aku bisa mengeluarkan semua kepenatan yang menumpuk ruah dalam otak dan hati ku terhadap pemerintah negri ini, kamu tahu? Selama sekian puluh tahun aku hidup, sebanyak buku sejarah bangsa-bangsa yang aku baca, sebanyak apapun berita-berita yang aku dengar, baru kali ini aku mendapatkan kenyataan pahit, kenyataan sebuah pemerintah membiarkan segelintir orang menyengsarakan rakyatnya, membiarkan sekelompok perompak dengan bendera B&B merampok kekayaan, masa depan, kehidupan rakyat banyak, bahkan seakan-akan menjadikan ini sebagai musibah alam yang tidak bisa lagi diupayakan sehingga harus dibiarkan, sempat muncul spekulasi berpikir jangan-jangan pemerintah itu merupakan bagian atau pemerintah itu turut mengecapnya? Namun kali ini tanpa kau minta aku telah membuang jauh-jauh prasangka buruk ku terhadap pemerintah negri ini. Jika sebuah pemerintahan tidak lagi dapat melindungi rakyatnya dari kemunafikan dan penindasan, dan jika sebuah pemerintah tidak lagi mampu menahan segala upaya kejahatan terhadap rakyatnya, dan jika sebuah pemerintah tidak dapat membahagiakan serta membiarkan rakyatnya hidup sejahtera, maka apa lagi yang bisa diharapkan dari pemerintah seperti itu? Temanku diakhir surat ini aku mau mengatakan pada mu betapa ngerinya hidup di negri ini, kamu lihat sendiri bahwa sebuah kejahatan besar, perampokan terang-terangan dan penindasan hak asasi manusia terhadap beribu rakyat bangsa ini telah dibiarkan oleh pemerintahnya, telah dianggap sebagai hal lumrah tanpa ada tindakan tegas, tanpa ada sanksi, bahkan tidak juga untuk sanksi moral, kamu bayangkan jika perampokan, kejahatan, pemerkosaan, pelecehan, penindasan, diskriminasi, pembunuhan dan lain-lain hanya terjadi pada ku, pada 1 orang, pada 1 orang yang bukan siapa-siapa, bukan juga mewakili siapa-siapa, apa yang bisa kita perbuat? Pada siapa kita memohon keadilan? Pada siapa kita akan meminta pertolongan/perlindungan? apakah hal ini tidak mengerikan? Setujukan kamu dengan apa yang aku katakan? Temanku, lega rasanya aku dapat bercerita hal ini padamu, yang ada saat ini aku hanya bertekat sesegera mungkin menyelesaikan tugas ku dinegri ini, dan sesegera mungkin kembali pada Indonesia-ku, Bangsa besar, tanah air ku, negara yang selalu melindungi mencintai dan dicintai oleh ku. Peluk cium dari temanmu”
Setelah membaca surat ini aku kembali tertegun dan berpikir keras, kenapa dia selalu menulis surat dan menceritakan kejadian-kejadian dan hal-hal mengerikan yang juga terjadi di sini? Dan kenapa aku selalu merasa sedang disindir olehnya jika membaca surat itu, seakan-akan temanku itu sedang berada dekat, berada di Indonesia ini? Kebetulankah? Aku terus berpikir hingga otakku lelah, dan tidak hanya itu badankupun sudah mulai mengikuti kelelahannya hingga aku tertidur, bermimpi tentang Indonesia, tentang negara yang makmur, yang sejahtera, yang selalu menyenangkan rakyatnya, membela rakyatnya, mengutamakan kesejahteraan rakyatnya, tidak ada lagi kekerasan, tidak ada diskriminasi, bahkan pemerintah yang biasanya diletakkan ditingkat paling agung, kali ini berada dalam tingkat yang terendah yang siap membantu dan melaksanakan setiap amanah rakyatnya, ideal…. semoga bukan ideal yang sekedar angan dan cita-cita…..