Ketika engkau datang
Mengapa di saat ku
Tak mungkin menggapaimu
Meskipun tlah kau semaikan cinta
Dibalik senyuman indah
Kau jadikan seakan nyata
Seolah kau belahan jiwa
Meskipun tak mungkin lagi
Tuk menjadi pasanganku
Namun ku yakini cinta
Kau kekasih hati
Terkadang pintu surga
Sukar dimengerti
Semua ini kita terlambat
by Kahitna
Anakku, amanat anugerah anjuri semesta
Berkah teristimewa laksana pijar bianglala
Aneka angan andai antah berantah
Taburi teguh kalbu mahagurui tabiat
Binari bibit ayomi kultur pekerti
Teguklah, rengkuhlah seisi nirwana
Asabat hijrah, alam rahim – alam dunia – alam kubur – alam keabadian
Kudus anakku…. Molek anakku… Ku lepaskan anakku kembali…..
(by : Devieta)
Aku bentuk jiwa raga lepas dari belenggu
Belit ragu enggan bergas benturi dinding fikir
Berang berandal kunjungi Kubergidik
Tepis binalku binasakan, bimbingi sejuk raga
Bineka halusinasi bodohi sukma
Membredel buai bual sang berandal
Kerahkan penjuru daya cagari nista
Kuterdakwa….., Kumerdeka….., Kini aku Dahaga….
(by : devieta)
Pilar kalbu berpihak runtuhkan kelu pilu
Perciki kuntum- kuntum panjati bianglala nirwana
Noktah nisbi niskala nujum niscaya
Nazarku usai nestapa gusuri neka-neka
Damba berangasi tutur, tunggangi ASA
Simbahi kalbu gagahi nurani
Rumbu rudu risiki rangsangi romansa kujur
Dermawan puja-puji dangkali deruji ego
Damai……, dampingi aku…, dekapi aku….
(by : Devieta L., thk’s ya)
Hari ini hari selasa, mau pulang kerumah cuma lagi males, kerjaan numpuk pun malas untuk menyelesaikannya… hehehee
seperti biasa dari pada ga ada yang dikerjakan lebih baik berkutat dengan pikiran..
Aku lagi teringat perkataan seseorang yang cukup tua, diusianya yang renta ia pernah bercerita tentang CiNtA… cinta antara peria dan wanita… cinta antara suami dan istri, cukup mengejutkan dan membuat saya tersentak namun sekaligus membuatku terus berpikir tentang hal itu
Menurutnya percintaan antara peria dan wanita, suami dan istri adalah seperti burung dilangit, sepanjang hari mereka berterbangan hilir mudik ke arah manapun, lalu pada saat senja datang burung peria dan burung wanita hinggap di satu dahan yang sama pada sebuah pohon yang rindang, menghabiskan malam berdua, menikmati detik2 yang berlalu berdua…
Lalu pagi harinya fajar mulai menyingsing kemudian lekas2lah si burung jantan terbang meninggalkan dahan ke arah barat dan si burung betina terbang ke arah timur, entah kemana tujuan mereka, yang pasti saling meninggalkan dan pergi sejauh-jauhnya
Seketika itu saya spontan bertanya, apakah nanti malam mereka akan bertemu kembali dalam satu dahan pohon? dia menjawab dengan senyum, sambil berlalu dia berkata, “apakah mereka akan bertemu kembali? tidak akan ada yang tahu….”
Tinggallah aku yang duduk termenung mendengar jawaban itu…
apa kiranya gerangan maksud dari ini semua? apakah ada maksud tersembunyi didalamnya? atau memang benarkah semua itu?
Ada yang berpendapat, setidaknya pendapat inilah yang paling dapat diterima dalam lubang otak ku yang kecil, yaitu : segala sesuatu tidak ada yang abadi, termasuk cinta seorang peria dan wanita, janganlah kita memikirkan itu sehingga itu menjadi pelekatan bagi kita, semua nya ada saat datang ada saat kembali…
Semoga makna cinta seperti demikian… walaupun sampai dengan saat ini aku masih belum dapat menemukannya sendiri, bahkan hanya untuk sekedar bisa menerima pendapat si orang tua itu…
gimana pendapat teman-teman?
si dungu awalnya bukanlah dungu sampai akhirnya si dungu benar-benar menjadi dungu setidaknya begitulah yang teman-temannya katakan.
si dungu menjadi benar-benar dungu ketika ia jatuh dalam semangat badaniah si dungu menjadi berlipat-lipat dungunya ketika ia tidak dapat berpikir bening setelahnya
si dungu kini hanya bisa mengutuki kedunguannya…. sambil berharap dungunya berubah menjadi sinar biru…
apakah harapan si dungu itu benar-benar dungu?
lelah rasanya aku berjalan
berjalan dari sisi paling kanan hidupku
menuju paling kiri
tak tau apa yang harus dicari
namun aku ini Manusia super
aku tidak boleh Lelah
aku harus Menemukan
aku tidak peduli walaupun kiriku tidak
berujung
hai… Kau jangan hanya tersenyum…
hai… Kau bukankah ini ulah mu dengan
membuat aku super?
hai… jangan salahkan aku kalau suatu
saat aku muak pada MU
karena sejujurnya aku sudah mulai lelah
dengan semua ironi ini, ironi dari Mu…
Haruskah aku kembali, kembali ke kanan
terbuai dengan kesuperan aku yang Kau
berikan?