Aku hari ini menerima surat dari sahabatku, sahabat yang sudah lama tinggal jauh, ada hal yang sangat mengganggu aku dari suratnya, mungkin aku kutipkan
surat sahabatku itu…
“Dear sahabatku, di Jakarta
Hai sobat, sudah lama kita tidak berjumpa, dan tidak dapat bercerita-cerita sejak saya harus pindah ke tempat lain. Kangen juga rasanya harus jauh dengan Tanah Air kita “Indonesia”. Sahabatku, ternyata tinggal dinegara ini tidak seperti yang saya bayangkan, memang benar yang orang-orang pernah katakana bahwa negara ini benar-benar kacau, menyebalkan, korupsi dimana-mana, pejabat gendut makin gendut dan otaknya makin mengecil karena tidak pernah berpikir ttg rakyatnya yang semakin susah, birokrasi yang berbelit dan tidak memperhatikan rakyatnya, kekejaman dan kejahatan selalu terjadi dimana-mana, katanya itu semua terjadi karena kemiskinan negara itu yang tidak kunjung membaik.
Tapi sobatku itu belum seberapa, karena hampir semua warga dewasa masyarakat di negara itu semuanya benar-benar perampok handal, kamu jangan kagetya karena yang saya maksud perampok bukanlah seperti yang kamu bayangkan, perampokan yang biasa mereka lakukan adalah merampok milik anak-anak mereka sendiri, nah kalo yang ini mungkin kamu boleh lebih terkaget-kaget. Mau tau apa yang mereka rampok? Mereka telah merampok sumber daya alam yang merupakan titipan anak-anak mereka, mereka juga telah merampok hutan-hutan dengan menebangnya secara sembarangan, dan sebagainya. Sahabatku akir-akir ini saya juga baru sadar bahwa mereka juga telah banyak melakukan perbuatan yang tidak adil/kejahatan pada anak-anak mereka, saya tidak tahu apakah mereka sadar telah malukannya atau tidak, seperti halnya hari kemarin saja saya telah melihat kejahatan (tindakan kekerasan pada anak-anak) yang mereka lakukan, ingin tahu sobat apa kira-kira yang mereka lakukan? Ini aku tuliskan sebagian hal buruk tersebut:- Memukul, menganiaya dan kejahatan fisik lainnya, bahkan ada beberapa bapak yang juga telah memperkosa anaknya sendiri.- Tidak mampu membiayai anak-anaknya hingga anak-anak tersebut terlantar tanpa masa depan.
- Jangankan menyekolahkan secara formal anak-anaknya, bahkan mengajarkan akhlak yang geratis saja mereka tidak melakukan.
- Membiarkan kesehatan anak-anaknya tanpa tanggung jawab.
- Membiarkan anak-anak mereka berkelahi saling tusuk di jalanan.
- Bahkan sampai ke hal yang sangat mudahpun orang tua tetap tidak memperhatikan anaknya seperti berjalan dengan membiarkan anaknya berada disisi paling luar, mengendarai motor dengan sembarangan padahal mereka sedang membawa anaknya yang masih balita dsb.
- Membiarkan anak-anak mereka menonton hal-hal buruk dari sinetron/acara TV yang busuk.- Dan yang terburuk, bahkan akibat yang timbul dari kelalaian mereka diatas, mereka malah dengan tenang dan tanpa merasa dosa menyalahkan orang lain, menyalahkan pemerintahnya, menyalahkan orang-orang yang kebetulan lebih mapan dari mereka…., tidak jarang mengambil keuntungan sendiri…Mwminta Pemerintah menggratiskan sekolah, meminta orang-orang dermawan membiayai sekolah anaknya, namun demikian masih saja kondisi tidak berubah.
Sungguh sedih dan menangis aku melihatnya…. apakah kamu merasakan yang sama sahabatku?Apakah adil jika Negara ini miskin menjadi alasan bagi para orang tua menelantarkan anak-anak yang mereka “bikin” sendiri?Apakah adil jika orang tua ini tidak bisa mendapatkan penghasilan cukup (karena kemalasannya sendiri) tapi anak-anaknya yang harus menanggung dengan mengemis dijalanan?Apakah masih relefan lagi pribahasa jawa “anak polah bapak kepragat”, saya rasa sudah tidak lagi, namun yang paling cocok saat ini mungkin adalah “bapak polah anak kapiran…”
Ya menyedihkan dan aku tidak tahu sampai kapan hal ini akan terus berlanjut, ingin rasanya bertriak di sepanjang jalan, berteriak STOP, HENTIKAN KEKERASAN INI, MEREKA ANAK-ANAK KITA……….., SIAPA YANG PALING SAYANG PADA ANAK-ANAK KITA KALAU BUKAN KITA? STOP BERHARAP PADA ORANG LAIN, PADA KOMNAS, PADA PEMERINTAH, PADA SIAPAPUN, KARENA MEREKA BUKAN AYAHNYA, MEREKA BUKAN IBUNYA, tapi aku berpikir apakah itu dapat merubah, terkadang aku berpikir apakah aku yang aneh dan terlalu kritis atas pemikiran diatas ataukah memang ada penurunan atau gradasi cara berpikir orang, sehingga hal tersebut lasim dan biasa saja terjadi?
Temanku mungkin saat ini baru bisa itu yang aku ceritakan, jagalah kesehatan.Dari sahabatmu…..”
Setelah membaca itu ada beberapa hal yang langsung terpikirkan oleh ku..
1. Kondisi itu seperti yang terjadi di sini, ditempat aku berada, apakah sahabatku sedang menyindir aku, menyindir bangsa kita? ataukah memang kebetulan disana pun demikian? atau jangan-jangan sebenarnya sahabatku tidak sedang berada di tempat yang jauh? 2. Apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan keadaan yang sungguh menyedihkan ini atau anda akan tetap rajin berkontribusi atas kekejaman-kekejaman itu dengan tetap memproduksi sinetron atau acara tidak bermutu, membiarkan anaknya menonton, membiarkan kita bertriak memaki orang dijalanan dengan dilihat oleh sikecil, membiarkan anakmu ikut menanggung ekonomi keluarga karena kemalasan mu dan masih banyak lagi kegiatan keji lainnya??
3. Setelah anda membaca ini apakah anda sadar/malah menganggap biasa saja? Jika menganggap biasa, maka maafkan aku kalau aku bilang anda belum siap menjadi Bapak / Ibu yang baik, kalu anda belum bisa menanggung biaya makan dan sekolah anak serta mendidik secara moral lebih baik tidak usah punya anak.
wartawan yang berasal dari amerika, negara yang menomor satukan HAK ASASI MANUSIA, sedang berbincang santai namun formal dengan seorang Jendral, seorang pemimpin diktator sebuah negara komunis di benua afrika.
wartawan memulai wawancara dengan pertanyaan simple, tanyanya “Jendral, anda terkenal sekali sebagai pemimpin yang berkarisma, wibawa dan sangat dicintai oleh keluarga… apa pendapatmu?”
Jendral itu hanya tersenyum dan menjawab singkat “saya hanya mencoba menjadi bapak yang baik yang memberikan contoh yang baik buat keluarga saya.”
melihat jawaban dan senyuman sang Jendral tadi wartawan tersebut merasa mendapat tanda bahwa ia dapat melanjutkan pertanyaan2 yang lebih kritis kepada sang Jendral, memang wartawan yang satu ini memang sangat terkenal dalam memberikan pertanyaan2 bagus dan sekaligus menjebak, banyak sudah tokoh dunia yang terkecoh dengan pertanyaannya…
wartawan tadi kembali bertanya “Jendral, anda sangat terkenal sebagai tokoh yang kharismatik, tokoh yang pandai, tokoh yang pandai dalam mendoktrin dan menanamkan idiologi2 komunis, bahkan anda sebagai tokoh diktator no 1 dunia, apakah ini mengganggu anda? mengganggu hub anda dengan keluarga? dan bagaimana mungkin anda bisa sangat diktator dan selalu mengdoktrin bangsa anda seperti itu, bukankah itu buruk?’
Sang Jendral kembali tersenyum, namun walaupun demikian nampak jelas, senyumnya benar2 tulus, bukan senyum tipuan seperti tokoh2 diktator lainnya yang tersenyum dengan licik atau bermakna lain, kemudian ia langsung berbalik memberikan pertanyaan kepada wartawan itu
J : “kamu berasal dari amerika?”
W : “yes, i am..”
J : “amerika negara dambaan, negara besar yang menjadi impian setiap demokrasi, setiap org yang berharap hak asasi…”
W : “yes sirr, that’s right… dan saya bangga olehnya”
J : “bolehsaya bertanya lagi?”
W : “dengan senang hati Jendral”
J : “kamu punya anak?”
W : “yap..”
J : “apakah kamu mendidik anakmu dengan baik, termasuk mendidik agama?”
w : “ya tentu, saya sangat konsen dengan pendidikan anak saya, bahkan untuk agama saya terapkan padanya sejak mereka lahir, maaf aku agak watir kalo mereka besar kelak tidak mengenal Tuhan sehingga akan berbuat sangat buruk…”
Jendral tersenyum kembali, hanya kali ini senyumnya lebih sumringah dibanding sebelumnya, hal ini membuat sang wartawan menjadi bingung dan mengerenyitkan dahinya sambil bertanya : “kenapa Jendral tersenyum seperti itu?”
J : “yah kalo begitu kamu telah menemukan jawaban dari pertanyaan mu ttg mengapa saya bisa sejahat dan tidak memperhatikan hak asasi manusia dengan mengdoktrin dan memimpin rakyatku dengan diktator… karena pada dasarnya kita sama… seperti kamu mendoktrin dan menentukan apa agama dan kepercayaan mu pada anakmu…”
Wartawan menjadi sangat terkaget-kaget sambil membelalakan matanya, belum habis kekagettan wartawan tersebut, sang Jendral kembali bertanya “apakah negaramu membiarkan org tua-org tua di negaranya memaksa dan bertindak melanggar hak asasi anak2nya?”
belum sempat wartawan mengajukan pembelaan, sang jendral sudah terlanjur berlalu meninggalkannya sambil tersenyum…
so apa pendapat pembaca?? semua terserah pada kalian menilai, penulis tidak mau menentukannya karena tidak mau melanggar hak asasi manusia… karena melanggar hak asasi manusia identik dengan kejahatan, identik dengan diktator dsb…